[CAnBuk] Rumah Kaca

Foto: Pribadi

Akhirnya keempat buku Tetralogi Buru-nya Pramoedya sudah habis aku baca. Buku terakhir ini judulnya Rumah Kaca, agak spesial. Setelah membaca isi kepala Minke di tiga buku sebelumnya, aku kaget karena harus berpindah ‘kepala’ ke Jacques Pangemanann dengan dua N.

Seperti dikisahkan di akhir buku ketiga, Pangemanann adalah polisi yang ditugaskan menjemput Minke untuk dibuang ke Ambon. Sebelumnya dia juga pernah datang sebagai seorang pengarang “Si Pitung” dan meminta tulisannya dipublikasikan di koran Medan. Ternyata itu hanya akal-akalannya saja untuk bisa bertemu dan mengobrol langsung dengan tergetnya, sang pendiri Syarikat Dagang Islam.

Jacques adalah seorang pribumi Manado yang diangkat anak oleh pasangan Perancis. Sebagai polisi dia pernah membereskan masalah “Si Pitung” di sekitar Cibinong. Pada saat itu dia menemukan bahwa masalah sebenarnya bukanlah Si Pitung, namun kesewenang-wenangan orang Eropa yang membuat pribumi seperti si Pitung melawan dengan kekerasan. Hatinya ingin keadilan, namun demi mempertahankan jabatan dan kenyamanan hidupnya dia tidak dapat berbuat apa-apa selain terus menerus menjadi ‘kaki tangan’ pemerintah kolonial Belanda. Bagi Jacques, Minke ada si Pitung Modern, pribumi yang ingin melawan namun melalui jalan yang lebih halus, organisasi dan jurnalistik.

Setelah mengantar Minke ke pembuangannya, Jacques Pangemanann dipensiunkan dari kepolisian dan diangkat menjadi tenaga ahli di kantor Algemeene Secretarie. Tugasnya adalah untuk membereskan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh organisasi pribumi, tentunya secara rahasia, demi membantu Gubernur Jenderal mempertahankan posisinya di Hindia.

Rumah Kaca adalah istilah Pangemanann bagi kegiatannya, pengumpulan arsip tentang organisasi pribumi dan pelaku-pelakunya yang dianggap berbahaya bagi kekuasaan kolonial. Jacques cukup sibuk dengan banyaknya tokoh pribumi yang masuk ke dalam pengarsipannya dan pergerakan yang ditimbulkan oleh mereka. R.M Minke hanyalah salah satu sekaligus pemula dari semua pergerakan pribumi itu.

Jacques seperti manusia pada umumnya. Dia tahu mana yang baik dan yang buruk, mana yang adil dan mana yang keji. Dia mendambakan hidup dengan baik dan adil seperti yang telah dipelajarinya selama ini, namun dia tidak juga mengangkat kaki dari lumpur kekejian yang menjebaknya. Semua itu semata-mata demi mempertahankan jabatan dan kenyamanan hidup yang diberikan kolonial.

Pikiran Minke, meskipun pada awalnya terasa agak sombong, namun dia berkembang menjadi lebih baik dan membuat kita merasa optimis. Pemikiran Jacques, dan semua yang dirasakan dan dilakukannya, justru berkembang semakin buruk dan membuatmu ingin hilang dari dunia yang keji ini. Melalui dia, kita jadi tahu, orang jahat tidak semua pemikirannya jahat, juga tidak seluruh hatinya hitam. Aku malah merasa kasihan padanya, tidak ada yang benar-benar dia perjuangkan.

Sudah beberapa hari berlalu sejak aku menyelesaikan Rumah Kaca. Kesan yang masih ada padaku adalah, aku tidak suka menjadi Jacques Pangemanann. Pikirannya membuatku agak kalut. Aku tahu karena aku merasakannya juga. Bekerja di pemerintahan manapun sepertinya akan mengalami rasa bersalah seperti dia. Jika kau bagian dari itu, kau akan tahu, kau ingin yang terbaik, namun politiklah yang menentukan. Aku benci sekali politik, namun tidak ada jalan untuk menghindarinya di dunia ini.

Review Amatir Film Bumi Manusia

© Disediakan oleh PT Arkadia Media Nusantara Poster film Bumi Manusia [dok Falcon Pictures]

Adaptasi salah satu novel favoritku, Bumi Manusia, sudah cukup lama dirilis di bioskop. Aku sengaja tidak menyempatkan diri menontonnya di bioskop karena waktu itu sedang menyelesaikan bukunya. Alasan lainnya adalah aku takut kecewa, biasanya film adaptasi suka tidak memuaskan para pembaca novelnya, contohnya Harry Potter dan Twilight Saga, iya kan?

Saat film ini dirilis di Netflix, aku pun tidak langsung menontonnya. Baru kemarin aku iseng-iseng memutarnya setelah lama tertimbun di ‘My List’. Hal pertama yang cukup mengesankan, ada lagu Indonesia Raya. Kebayang gak kalau nonton di bioskop? Baru duduk sudah disuruh berdiri lagi untuk lagu kebangsaan. Keren juga sih.

Kesan keduaku adalah: lucu sekali lihat si Dilan jadi pemuda Jawa berkumis tipis, hahaha. Menurutku Iqbal Ramadhan lebih bagus aktingnya menjadi Minke daripada jadi Dilan, lebih cocok ngomong jowo daripada nyarios sunda. Ekspresi-ekspresinya lebih ‘dapet’.

Cerita Bumi Manusia ini berlatar jaman kolonial, pemeran-pemerannya juga banyak orang bule untuk memerankan orang-orang Belanda. Sementara orang Indo dan pribumi juga diperankan oleh orang-orang yang tampangnya pas. Akting Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh dan Mawar Eva de Jongh sebagai Annelies Mellema juga bagus, sesuai dengan yang deskripsi di novelnya, menurutku. Hanya satu peran yang melebihi bayanganku, yaitu Jan Dapperste alias Panji Darman kok jadi ganteng banget, diperankan oleh Bryan Domani, membuat aku salah fokus, hehehe.

Soal casting pemain, oke lah sudah sesuai. Nah sekarang plot ceritanya. Sebuah buku yang lumayan tebal, yang kalau dibaca bisa selesai sampai seminggu atau sebulan, diringkas menjadi film yang ‘hanya’ berdurasi tiga jam (padahal tiga jam itu lama sekali kalau untuk film). Tentu saja ada bagian-bagian yang tidak dimasukkan ke dalam film, seperti surat-surat panjang dari De la Croix bersaudara, atau pemikiran Minke yang penuh emosi saat berhadapan dengan ayahnya (yang sangat menjunjung tinggi penghormatan dalam budaya Jawa saat itu).

Hal-hal seperti itu, yang sebenarnya merasuk ke dalam pemikiran pembaca menjadi bahan pemikiran segar, memang sulit untuk menuangkannya ke dalam sebuah tontonan, apalagi ada perbedaan point of view dari “aku”-nya Minke menjadi God’s eye-nya para penonton. Itulah kelebihan membaca dibanding menonton, kau bisa (merasa) menjadi pelaku utamanya.

Meski begitu, plot cerita dalam film sudah mengakomodir cerita aslinya. Demi akhir yang dramatis, kepergian Annelies dari ibu dan suaminya menjadi scene penutup film diiringi oleh lagu Ibu Pertiwi. Semakin sedih saja rasanya kalau menonton di bioskop, soalnya bisa menangis bersama-sama. Kalau di novelnya, cerita diakhiri saat Maurits Mellema datang untuk mengambil semua aset Nyai Ontosoroh setelah Annelies pergi ke Amsterdam.

Ada pula improvisasi yang tidak ada dalam novelnya. Nama asli Minke diperlihatkan sebagai R.M. Tirto Adi (di novel tidak disebutkan). Kemudian ada scene saat Minke menjadi penerjemah ketika upacara pengangkatan ayahnya menjadi Bupati. Di filmnya, Minke tidak menerjemahkan kata-kata ayahnya, namun mengatakan pemikiriannya sendiri (yang sangat berbeda dengan ayahnya) dalam bahasa Belanda. Aksi perkelahian di halaman rumah Nyai Ontosoroh juga kelihatan lebih nyata. Sebagai penonton, aku senang-senang saja dengan semua improvisasi itu, seru juga soalnya.

Sepertinya tidak ada lagi yang bisa aku bahas di sini. Ini hanyalah kesan-kesanku sebagai pembaca dan penonton Bumi Manusia. Filmnya bagus, sebagai pembaca aku tidak kecewa dan sebagai penonton aku senang. Aku pribadi memberikan rating 8/10, sangat recommended untuk ditonton, terutama kaum Adam pasti suka melihat kecantikan Annelies. Good job Hanung!

[CAnBuk] 1Q84 Jilid 1

Foto by Anagalih

TANGGUNG. Intinya itu saja, tanggung, pake ‘banget’.

Ini buku Haruki Murakami kedua yang sudah kubaca. Beberapa bulan lalu aku sempat baca novelnya yang berjudul Kafka On The Shore (versi bahasa Inggris). Sangat menarik sekaligus sangat absurd. Untuk 1Q84, aku juga sudah mengantisipasi adanya ke-absurd-an Murakami yang semacam itu, tapi ternyata tidak se-absurd Kafka.

Gaya penulisan di 1Q84 sama dengan novel Kafka. Ada dua tokoh utama di dalam satu buku, tapi cerita masing-masing tokoh disajikan bergantian per babnya. Jadi bab 1 tentang tokoh A, bab 2 tokoh B, bab 3 tokoh A lagi, dan begitu seterusnya sampai mereka bertemu di bab-bab akhir. Bagusnya pembaca jadi tidak merasa bosan karena suasana cerita setiap tokoh lumayan jauh berbeda. Juga, ada rasa penasaran tentang hal apa yang mengaitkan kedua tokoh tersebut di akhir ceritanya nanti.

Sayangnya, 1Q84 adalah buku berseri. Akhir Jilid 1-nya tidak memuaskanku. Tidak ada solusi sama sekali. Seperti kisah yang hanya kita baca sampai pertengahan buku saja. Berbeda dengan seri Bumi Manusianya Pram atau seri Supernova Dee Lestari, atau Harry Potter yang setiap bukunya punya akhir yang bisa kukatakan good ending karena tidak menggantung, meskipun suka memberikan kesan kalau “cerita ini belum berakhir”.

Mungkin 1Q84 dijadikan tiga jilid hanya agar bukunya bisa lebih tipis saja dan mudah dibawa kemana-mana. Tapi jadinya ya seperti aku bilang di awal tadi, jilid 1 sangat tanggung. Strategi yang bagus untuk marketing, karena pembaca harus membaca jilid-jilid selanjutnya untuk mengetahui akhir dari kisah Aomame, Tengo, Fuka-Eri, dan Orang-orang Kecil yang membangun Kepompong Udara itu.

Anyway, ini tidak penting sih, tapi buku ini aku pinjam dari perpus kantor sejak awal Maret, dan baru beres aku baca hari ini. Seharusnya aku kembalikan pada tanggal 20 Maret kemarin, tapi karena ada sistem Work From Home (terima kasih Covid-19) sejak 16 Maret, aku belum ke kantor lagi sampai sekarang. Semoga tidak didenda deh haha.

NB : Aku kira judulnya iq84, ternyata depannya angka satu, bukan huruf i, ugh jadi malu sendiri :’D

Masalah Menulis

Aku suka menulis, terutama tentang diriku sendiri. Kau tau lah, mirip seperti orang narsis yang membicarakan dirinya sendiri sepanjang waktu padahal tidak ada yang ingin mendengarkan. Aku merasa menulis membuatku lebih tenang dari keriuhan isi kepalaku yang sangat sangat sangat berantakan. Aku harap dapat langsung mengeluarkan semua yang ingin aku tulis tanpa perlu menulisnya ataupun membicarakannya. Mungkin di masa depan akan ada teknologi seperti itu, semoga saja ya.

Seharusnya aku menulis di buku diary saja. Tidak ada orang yang perlu membaca tulisanku yang membosankan ini. Entah kenapa aku masih saja menulis di internet. Dasar makhluk haus perhatian.

Ada beberapa hal yang membuatku tidak berkembang dalam hal tulis-menulis. Pertama, aku tidak tahu apa yang akan aku tulis. Alias tidak ada ide. Akhir-akhir ini aku berpikir bahwa menulis itu kan komunikasi juga. Bagaimana kamu mengkomunikasikannya tidaklah penting, yang penting kan dapat dipahami oleh orang lain. Dan yang paling penting adalah APA yang akan kamu sampaikan pada mereka. You see? Konten lebih penting daripada alat dan metode, meskipun metodenya juga harus efektif. Dan karena aku tidak tahu APA yang ingin kusampaikan, tulisanku hanya menjadi kata-kata tanpa jiwa. Kau tahu apa yang berbadan tapi tidak berjiwa? Mayat. Blog ini seharusnya jadi taman pemakaman kata-kata saja.

Hal yang pertama tadi membawaku pada masalah kedua. Aku tidak bersemangat lagi untuk menulis. Setiap hari hidup berkembang semakin kompleks. Aku merasa banyak hal yang hanya bisa aku pikirkan tapi tidak bisa aku tuliskan. Kadang-kadang itu membuatku frustasi. Aku ingin mengabadikan segalanya, tapi aku merasa tidak sanggup, tak punya daya sama sekali.

Ketiga, aku benci diriku sendiri. Aku benci mengapa aku tidak punya ambisi yang cukup. Aku benci kenapa aku bagaikan ikan mati yang hanya mengikuti arus air. Aku benci diriku yang bagaikan figuran dalam hidupku sendiri. Aku benci tidak punya kendali atas hidupku sendiri. Aku bahkan benci diriku yang membenci diri sendiri. Apakah itu masuk akal?

Aku ingin menambahkan alasan-alasan lainnya, tapi hanya bisa memikirkan tiga hal saja. Jadi, ya, begitulah. Tamat.

[CAnBUk] Jejak Langkah

Buku ini tebal sekali. Rupanya buku pertama (Bumi Manusia) dan keduanya (Anak Semua Bangsa) hanyalah pengantar bagi sebuah kisah yang luar biasa ini. Harus aku akui bahwa salah satu alasan aku mengalami reading slump selama beberapa minggu kemarin, adalah karena novel roman ini. Isinya sangat berat sampai aku tidak dapat menanggung bebannya. Jadi kuputuskan untuk istirahat “beberapa jenak” setelah melahap setengahnya.

Jika kau berpendapat bahwa kata-kataku di atas itu berlebihan alias lebay, aku tidak akan mengelak. Mungkin bagi sebagian orang, konflik politik dan kebangsaan dalam sebuah novel itu sesuatu yang seru. Well, bagiku tidak, apalagi dalam sudut pandang seorang pejuang seperti Minke. Saat aku masuk dalam kepalanya, aku merasa cepat lelah. Tidak mengherankan sih, aku hanyalah orang biasa yang berhati lemah.

Banyak sekali tokoh nyata yang menjadi “cameo” dalam kehidupan Minke. Ada R.A Kartini, Dewi Sartika, Abdoel Moeis, Para Pendiri dan Anggota Boedi Oetomo, Syarikat Dagang Islam, dan lain-lain. Bahkan, koran Medan Prijaji (MP) juga benar-benar ada. Maafkan aku yang bodoh akan sejarah bangsa sendiri ini, karena belakangan baru aku ketahui kalau Pramoedya memang sengaja mengangkat kisah perjuangan pendiri MP, alias Tirto Adhi Soerjo (TAS) – Bapak Pers Nasional, ke dalam sebuah karakter yang disebutnya Minke pada Tetralogi Buru ini. Wow, lagi dan lagi, kemana saja aku selama ini.

Dalam buku ketiganya, Minke sudah semakin dewasa. Lebih banyak kisah perjuangannya daripada romantisnya. Meskipun tidak banyak detail tentang percintaannya, aku sempat kesal saat Minke menikah untuk ketiga kalinya dengan Prinses Van Kasiruta. Dia benar-benar seorang philogynik. Perempuan-perempuan yang dia nikahi memang semuanya luar biasa sih, membuat cerita semakin menarik. Oh iya, btw, Prinses Van Kasiruta itu memang benar istri ketiganya TAS, kalau Annelies dan Ang San Mei hanyalah fiksi yang kurasa untuk mempermanis cerita atau mempermudah Pram melukiskan keadaan Hindia pada saat itu.

Perjuangan Minke dengan organisasi di masa itu sungguh mengesankan. Entah berapa banyak rintangan yang mereka hadapi dari berbagai pihak. Tidak hanya dari pemerintahan kolonial, juga dari orang-orang pribumi sendiri terutama “konco-konco” Belanda. Kisahnya begitu penuh drama, penuh harapan, dan akhirnya selalu menguras emosi.

Begitulah kesanku pada roman Jejak Langkah karya Pramoedya. Pantas saja Pram pernah masuk daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra. Ini pesan kliseku untuk kalian semua tentang buku-bukunya Pram:

Saudara-saudara, bacalah karyanya, nikmatilah keindahannya, dan jangan lupa petiklah pelajarannya. 

Ini Tidak Berguna

Aku ingin mengisi blog ini dengan hal-hal yang bermanfaat bagi warganet yang budiman. Isi blog yang menginspirasi, memberikan kontribusi pada dunia, sekaligus menghibur. Pada saat yang sama, aku tidak punya apapun untuk ditawarkan kepada dunia. Tak ada cerita yang bermakna, atau pemikiran yang mendalam, atau ide yang brilian, atau humor yang menggelitik, bahkan tulisan yang sederhana pun tak bisa aku torehkan di sini.

Memang benar alasan pertamaku membuat blog adalah untuk menyalurkan stress dan kegelisahan yang aku alami. It was fun. Kemudian, lama-lama aku jadinya seperti seorang pengeluh di sini. Aku tidak banyak berkembang, seperti hidupku yang tidak “menuju” kemana-mana. See? Aku juga sedang mengeluh saat ini.

Sebenarnya jutaan kata ingin kucurahkan, dalam rangka mengeluarkan semua kegelapan dalam hati dan pikiranku. Tapi hal seperti itu kurasa tidak perlu diumumkan kepada dunia di jagad internet ini. Kadang-kadang aku berpikir untuk menemui psikolog saja, entahlah.

Aku akhiri sampai di sini saja. Ini tidak berguna.

[CAnBuk] Peril at End House – Hotel Majestik

Foto: Pribadi.

Ini adalah buku Agatha Christie ke sekian yang aku baca. Jujur aku bukan penggemar kisah-kisah Hercule Poirot, meskipun cukup menikmatinya juga. Aku lebih suka Sherlock. Yah, hanya masalah selera saja kukira.

Berbulan-bulan lalu aku mulai membaca beberapa bab awal dari novel ini. Entah mengapa rasanya aku merasa pusing dan bosan, lalu aku simpan lagi sampai waktu yang tidak ditentukan, yang mana itu adalah tiga hari kemarin.

Menurutku karakter Poirot cukup eksentrik, tapi sangat membosankan. Kisahnya diceritakan dari sudut pandang temannya, Hasting, semacam Watson-nya Holmes. Agak sulit bagiku mengikuti jalan ceritanya. Mungkin karena gaya bahasa atau terjemahannya, atau karena aku terlalu bodoh untuk mencerna semua itu.

Aku kebingungan sampai pertengahan buku, setelah itu rasanya aku bisa sedikit mengerti ceritanya. Ada sebuah pembunuhan dan banyak tokoh yang terlibat. Aku kira akan membosankan sampai akhir, tapi aku tidak menduga ternyata ada plot twistnya ‘yang seperti itu’. Hah, seru juga.

Aku tidak akan berkomentar apa-apa lagi. Aku hanya senang bisa menyelesaikan bacaan yang dulu aku mulai. Ini adalah sebuah progres kecil, tapi tetap saja namanya progres, kan?.

[CAnBuk] Laila Majnun

Foto: Pribadi

Ini adalah buku pertama yang aku baca sampai selesai pada bulan ini. Dia sudah lama berada di rak bukuku, bahkan dijadikan mainan oleh anak perempuan berusia dua tahun. Aku memilihnya untuk dibaca karena kelihatannya tipis dan bisa dihabiskan dalam semalam. Kenyataannya, butuh tiga hari. No complain, i enjoyed it.

Sudah lama aku tahu tentang kisah cinta Laila dan Majnun. Saat SD, aku pernah menemukan bukunya di rumah, entah punya siapa. Aku baca beberapa halaman saja. Aku masih ingat yang aku baca dulu adalah bagian dimana Qais, yang baru mulai dipanggil Majnun, dibawa beribadah haji ke Mekkah oleh ayahnya. Cukup mengesankan ternyata aku ingat sampai agak detail seperti itu.

Nizami memang penulis yang hebat. Kalau tidak, mana mungkin kisah ini bertahan sejak abad 12. Katanya Laila Majnun merupakan kiasan dari kecintaan makhluk terhadap Tuhannya. Aku tidak ingin membahasnya, apalagi mendebatnya. Mungkin bagi sebagian orang memang begitu. Hanya saja aku tidak menangkap bagian mananya yang menggambarkan mereka mencintai Tuhan kalau tidak disebutkan di epilog. (Spoiler: Cinta Majnun terhadap Laila diibaratkan cinta manusia kepada Tuhannya.)

Menurutku si Qais (alias Majnun) dan Laila itu bodoh. Hanya karena malu digosipkan orang lain, mereka menjauhi satu sama lain. Bahkan Qais mulai menggila dan memamerkan kegilaannya di hadapan umum. Ya otomatis dong orang tuanya si Laila tidak akan suka. Padahal mereka bisa menjauh sambil melakukan hal-hal yang benar untuk bisa bersama.

Misalnya, ini murni pendapatku, daripada Qais melantunkan syair dan ‘menggila’ di depan orang-orang, kenapa tidak langsung datang saja ke ayahnya Laila, langsung melamar putrinya yang cantik jelita itu. Dengan begitu Qais tidak akan menjadi Majnun dan Laila tidak akan dinikahkan dengan orang lain yang dia tidak suka. Kasus selesai dan semua orang bahagia.

Namun apa yang aku tahu tentang mereka. Kehidupan pada zaman mereka pasti berbeda dengan zamanku. Laki-laki harus terhormat dan perempuannya menjadi tawanan. Tawanan ayahnya saat belum menikah, lalu tawanan suaminya saat sudah menikah. Oh maaf, kata tawanan itu mungkin terdengar terlalu kasar (meskipun Laila sendiri yang bilang kalau dia adalah tawanan). Maksudnya, perempuan pada zaman itu tidak diberikan banyak ruang gerak dan berpendapat (sejujurnya, sebagian perempuan pada zaman sekarang juga masih ada yang diperlakukan seperti itu).

Baiklah, daripada semakin jauh melenceng, lebih baik kita kembali ke isi novelnya. Bagian awal adalah tentang kebahagiaan. Kelahiran Qais dan pertemuannya dengan Laila saat remaja. Gaya bahasanya sangat kuno dan terlalu romantis, tentu saja. Itu tidak jelek, bahkan bagus menurutku, me-refresh otakku dari gaya bahasa detail dan penuh dialog ala novel zaman sekarang.

Kisah yang bahagia tidak menarik perhatian pembaca. Sementara kisah tragis biasanya abadi dikenang sepanjang masa. Dan begitulah Laila Majnun bisa diingat sampai sekarang, karena setelah secuil kebahagiaan sebagai intro, hanya kesedihan yang tertulis sampai akhir. Majnun mati memeluk Laila. Tepatnya, Majnun mati di atas kuburan Laila, dan tidak ada satu pun yang memperdulikannya. Sungguh pria yang menyedihkan.

Aku tidak menangis, meskipun kisahnya sangat tragis. Bagiku kisah ini lebih ke ‘aneh’ daripada ‘sedih’. Overall, aku senang dapat membaca buku ini sampai beres. Kurasa aku mulai bisa menanggulangi masalah reading slump sedikit demi sedikit.

Reading Slump X Netflix

Februari berlalu tanpa satu tulisan pun tergores di sini. Itu tidak mengherankan, aku pernah melakukan yang lebih buruk. Kau tahu apa yang lebih payah lagi? Yaitu tidak membaca satu buku pun sampai habis. Benar sekali aku sedang mengalami virus reading slump.

Aku mencoba menata rak buku di dunia nyata dan dunia maya. Lihatlah apa yang aku lakukan:

Tentunya belum semua buku aku data di aplikasi ini. Lebih banyak lagi buku di rak reyot di kamar yang paling kecil.

Wow ada 14 buku yang sedang kubaca. Sebenarnya tidak benar-benar kubaca juga, yah mungkin satu dua halaman saja, setelah itu kembali ke rak. Masih banyak juga buku yang sudah dibeli dan belum dibaca. Oh aku merasa bersalah pada buku-buku itu.

Aku merasa bosan dan sedang tidak ingin membaca buku. Pelarianku kali ini adalah Netflix. That’s right people, now i am just another girl who watch movies, not read books. Hope i can enjoy reading books again.

Photo by Pixabay on Pexels.com

[CAnBuk] Anak Semua Bangsa

Foto: Pribadi

[Spoiler alert]

Saudara-saudara sudah tahu lah ya kalau aku tidak bisa tidak membaca novel ini. Setelah Pram memperkenalkan Minke dkk dalam Bumi Manusia, yang ternyata adalah buku pertama dari tetralogi, mau tidak mau aku harus membaca tiga novel lanjutannya. Karena? Aku sudah terperangkap dalam keindahan tulisan dan pesona pemikirannya.

Baru saja aku menghabiskan buku keduanya ini, Anak Semua Bangsa. Apa yang aku harapkan adalah agar Annelies bertahan di negeri nenek-moyangnya sampai dia bisa berkumpul kembali bersama Minke dan Mama. Harapanku sirna di akhir bab dua.

Baca lebih lanjut