Terjebak Novel Nibiru

Hampir satu tahun yang lalu aku mengunjungi Gramedia di Botani Square Mall Bogor. Iseng-iseng beli buku murah karena sedang ada “cuci gudang” buku-buku lama. Aku menemukan sebuah novel fantasi karya penulis Indonesia, Tasaro GK. Judulnya Nibiru dan Ksatria Atlantis. Terbitan Tiga Serangkai tahun 2010, tebal bukunya 690 halaman, dan mengklaim dirinya sebagai “Buku aksi fantasi atlantis Pertama di Indonesia”. Wow! Akan jadi bagaimana ya kalau orang Indonesia mengarang buku fantasi?

Novel ini sempat nongkrong jadi pajangan di rak buku hampir setahun, baru seminggu belakangan aku tertarik membacanya. Mungkin basi kalau sekarang aku menuliskan reviewnya, terbitnya saja tujuh tahun lalu, haha. Tapi  sedikit gambaran saja ya tentang cerita Nibiru ini.

Ringkasan Cerita Nibiru

Ceritanya, tahun 13.359 Sebelum Masehi, hiduplah seorang bocah remaja bernama Dhaca Suli di pulau Kedhalu. Orang-orang di pulau itu mempunyai kekuatan super yang disebut pughaba, semacam kekuatan untuk mengendalikan unsur alam, binatang, ruang dan waktu, ilmu menghilang, kekuatan menyembuhkan, dan pengendalian pikiran.

Ramalan mengatakan akan datang Nibiru, sosok kejam pembawa kiamat setiap 5.013 tahun, dan itu tidak akan lama lagi. Kehancuran Kedhalu sudah di depan mata, diawali dengan munculnya Annunaki, si ‘Jubah Sihir’ pengabdi Nibiru, menculik dan menawan ayah Dhaca, Wamap Suli. Dhaca bertekad untuk melawan Annunaki, membebaskan ayahnya, dan menyelamatkan Kedhalu.

Namun, kedatangan Nibiru bukan satu-satunya hal yang perlu dicemaskan. Si Jubah Sihir ternyata juga bekerja untuk penguasa Nyatheymathibh, pulau besar yang mempunyai kekuatan perang yang hebat dan sudah lama mengincar orang-orang Kedhalu untuk dijadikan tentara atau budak. Penduduk Kedhalu mengenalnya dengan nama Nyatheymathibh, namun mereka sendiri menyebut negerinya “Atlantis”.

Ayah Dhaca sangat yakin kalau anaknya adalah keturunan Raja Saternatez, penguasa Kedhalu sesungguhnya yang sudah lama menghilang. Misinya adalah mendapatkan Cincin Saternatez agar dia bisa mendapatkan kembali kekuatan Raja Saternatez untuk menyelamatkan Kedhalu dari serangan Nyatheymathibh dan Nibiru.

Dengan bantuan teman-teman dan tokoh hebat lainnya, Dhaca berhasil mendapatkan cincin Saternatez. Namun di luar dugaan, cincin itu tidak bereaksi sama sekali ketika dipakai olehnya. Dhaca dan ayahnya salah, dia bukanlah keturunan Raja Saternatez. Sementara, penguasa Kedhalu sesungguhnya tidak lain adalah sahabat setianya, yaitu Sothap.

Kenyataan itu tidaklah membuat Dhaca putus asa, dia tetap berjuang untuk mempertahankan Kedhalu bagaimanapun caranya. Satu per satu misteri masa lalunya pun akhirnya terungkap, tentang almarhum  ibunya yang dulu pejuang Nyatheymathibh, Jubah Sihir yang bertahun-tahun menyamar menjadi nenak Bhupa Supu yang sangat dekat dengannya, dan tentang sosok Nibiru itu sendiri.

Saat Dhaca melawan Annunaki, dia sempat dikuasai energi gelap karena terprovokasi sosok Jubah Sihir itu. Dari luar dia memang terlihat seperti Dhaca yang biasa, namun jiwa dan perangainya berubah, sosok itu telah muncul di tengah keporak-porandaan Kedhalu, Dhaca adalah sang Nibiru.

IMG20171002143411-01.jpeg

Terjebak 

Meskipun tidak se-“nagih” Harry Potter, tapi Tasaro GK menuliskannya dengan sangat apik. Aku hanya sedikit pusing karena banyak nama dan istilah yang sulit diucapkan, seperti Nyatheymathibh, Tuan Kebhudhuby, Sanyipmany, Thedputhup, dan masih banyak lagi. Secara keseluruhan, oke juga ya novel fantasi karya anak bangsa ini.

Katanya novel ini adalah buku pertama dari Pentalogi Nibiru. Di jilid belakangnya tertulis “Nantikan kisah selanjutnya… Nibiru dan 7 Kota Suci”. Wow (lagi). Kalau buku pertamanya terbit dari 2010, pikirku mungkin sekarang sudah lengkap 5 buku. Jadi aku browsing-browsing di toko online tapi ternyata…. nihil.

Kelanjutan novelnya belum ada di Gramedia maupun toko online lainnya. Hiks. Padahal penasaran sama Dhaca yang katanya jadi Nibiru yang baik dan akhirnya akan melanjutkan petualangan ke Atlantis. Aku jadi terjebak untuk menunggu nih. Saabaaar…..! :”)

Advertisements

Mengungkap Resep Tempat-tempat Genius ala Eric Weiner

Kali ini, aku ingin mencoba menuliskan ‘review amatir’ tentang sebuah buku karya Eric Weiner berjudul “The Geography of genius”. Pertama-tama, mari perkenalkan identitas buku ini :

Judul: The Geography of Genius (terjemahan bahasa Indonesia)
Penulis: Eric Weiner
Penerbit: Qanita
Tahun terbit: 2016
Tebal: 575 halaman

Awalnya aku iseng membaca sample buku ini di Google Playbook. Lama-lama menarik juga karena bahasanya begitu mengalir seperti mendengar ceritanya langsung dari sang penulis. Akhirnya sebulan yang lalu aku membelinya secara online, dan aku semakin suka karena bukunya wangi. Benar saudara-saudara, bukunya wangi! (setidaknya otak aku bilang begitu). Itulah kenapa aku lebih suka buku cetak daripada e-book (eh maaf oot hehe).

Kembali ke isi buku ini. Sebetulnya aku tidak terlalu hafal isi bukunya. Ya mau bagaimana lagi, ternyata tebalnya hampir seperti novel Harry Potter jilid 5 dan aku bahkan membereskannya dalam waktu yang lama, satu bulan. Intinya buku ini berisi hasil perjalanan mas Eric Weiner ke tempat-tempat yang pernah (dan sedang) melahirkan orang-orang/ kebudayaan/ lingkungan yang genius.

Definisi “Genius” yang Eric maksud bukanlah genius secara IQ. Dia meminjam definisi dari Margaret Borden (seorang peneliti dan pakar kecerdasan artifisial) tentang “Genius Kreatif”, yaitu seseorang dengan “kemampuan untuk menelurkan ide-ide baru, mengejutkan, dan bernilai”. Mas Eric sih mencontohkannya seperti Socrates, Darwin, Albert Einstein, Marie Curie, Mozart, Steve Jobs, dan segerombolan orang genius lainnya.

Dari Athena sampai Silicon Valley

Eric Weiner memulai perjalanan filosofisnya dengan mengunjungi Athena, kemudian menyebrang ke Hangzhou, lalu daratan Eropa, Florence dan Edhinburgh. Dia juga pergi ke sebuah kota di India, Kolkata, menyebrang kembali ke Eropa, Wina, dan berakhir di Silicon Valley. Kurasa dia mengurutkan perjalanannya berdasarkan “era kegeniusan” dari yang paling kuno sampai yang termodern.

Dari catatan perjalanannya itu, aku jadi tahu kalau orang-orang Athena di zaman Socrates suka berjalan kaki, dan makanan di sana tidak terlalu enak, jadi mereka mengalihkan perhatian dengan mengobrol. Dan tadaaa… Akhirnya dari obrolan-obrolan itu muncullah ide-ide kreatif. Kira-kira seperti itu prosesnya (yang aku tangkap dengan otakku yang tumpul ini) Athena menjadi kota genius.

Fakta-fakta unik di kota-kota selanjutnya tidak kalah menarik. Hangzhou pada masa keemasannya mempunyai inovasi mesin cetak huruf dan raja yang pandai berpuisi. Florence berjaya setelah terkena wabah pes dan menciptakan Florin, mata uang internasional pertama. Kolkata adalah kota yang penuh kekacauan. Bahkan perangkat paling ‘berjaya’ di Silicon Valley, ungkap mas Eric, bukanlah iPhone atau microchip, melainkan van jasa pindahan, karena tempat itu penuh dengan energi kinetik.

Apa yang membuat kota-kota itu melahirkan kegeniusan pada masa keemasannya?. Resep dasarnya ala Eric Weiner, suatu tempat menjadi kreatif karena adanya Tiga K: kekacauan, keragaman, dan kebijaksanaan.

Bagaimana ketiga karakter itu bisa membuat suatu tempat menjadi genius kreatif?. Kurasa itu sudah dijawab oleh Eric sendiri, dia bilang:

hal yang dihargai di suatu negeri akan tumbuh di sana”.

Jadi, hal-hal apa saja yang dihargai di kota-kota genius itu? Semuanya terungkap saat kau mengikuti perjalanan filosofis Eric dalam buku ini.

Jangan Diam di Zona Nyaman!

Menariknya saat membaca kisah perjalanan di kota-kota genius itu , Eric berjalan-jalan bersama “para guide”-nya secara bergantian ke tempat-tempat bersejarah di setiap kota dan aku seperti ikut berjalan bersamanya. Eric punya gaya bahasa yang tidak kaku, mirip novel. Tapi ada juga saat-saat dimana kisahnya menjadi pengantar tidur bagiku, hehe.

Apa hikmahnya setelah membaca buku ini?. Bagiku sendiri kurang lebih seperti ini: kreativitas itu muncul dari adanya pergerakan, jadi jangan diam di zona nyaman. ‘Moving-moving’ aja kitaa… 😀

Buku ini seperti snack, selain enak (dibaca), juga bisa menambah persediaan lemak wawasan kita tentang sejarah kota-kota genius dan bagaimana sebaiknya kita menjalani hidup ini agar lebih kreatif.

Akhir kata, sekian dulu review amatir kali ini. Semoga bermanfaat ya saudara-saudara 🙂

Buku-buku yang Terlupakan

Sebagai seseorang yang punya keinginan menjadi penulis, membaca adalah hal yang harus dilakukan alias wajib banget. Meskipun rak buku sudah hampir penuh, dan angan-angan sudah terpatri dalam jiwa, ehm, tapi tetap saja intensitas membaca masih jauh dari cukup (menurut target pribadi ya).

Sebenarnya setiap hari juga membaca, meskipun bukan buku. Ya seperti membaca berita, timeline, artikel-artikel, chat wasap, dll. Hanya saja rasanya tidak ada yang terlalu menunjang tujuan yang ingin kucapai. Apalah bedanya aku dengan netizen l*ne t*day kalau begini caranya.

Buku-buku yang sudah dibeli hanya menjadi pajangan berdebu. Dibersihkan pun hanya sekali-kali, kalau sedang sempat saja. Ah kasihan sekali mereka, kalah sama game Gardenscape.

Banyak sekali alasan untuk menunda-nunda membaca. Sibuk lah, capek lah, sedang tidak mood lah, bukunya kurang menarik lah, dan masih banyak lagi. Pada intinya memang tidak memprioritaskan saja.

Ini namanya tidak fokus dengan tujuan. Bagaimana ya memperbaikinya? Mungkin harus membayangkan rasanya menjadi buku-buku yang terlupakan itu?.

Maafkan aku ya buku-buku….

Merdeka itu…

Kamis pagi rasa minggu pagi. Indahnya hari kemerdekaan, karena tanggalnya jadi merah!

Bagi para pahlawan merdeka itu bebas dari penjajahan. Tidak terlalu memahami apa yang mereka rasakan, tapi mungkin sama seperti kebebasan dari kemacetan dan keruwetan kereta saat jam berangkat dan pulang kerja bagiku. Hemm… Tapi setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya kemerdekaan mereka lebih berarti daripada sekedar “kemerdekaanku” itu. Pengorbanan aku sih masih cetek.

Banyak sekali arti ‘merdeka’ jaman sekarang. Apalagi dengan adanya sosial media, semua orang bisa mendefinisikannya dengan sesuka hati di akun sosmednya, lengkap dengan foto-foto ‘cetar’ nya. Itulah salah satu fitur dari kemerdekaan, bebas berekspresi dan mengiklankan eksistensi diri, hehe.

Kalau bagiku sendiri, merdeka itu… Seharusnya bebas dari penjajahan apapun, termasuk kekhawatiran masa depan. Jadi, sepertinya sekarang nyaris mustahil bagiku merdeka seperti itu, masih usaha.

Bagaimanapun, terima kasih Indonesia sudah merdeka dan bikin aku libur hari ini. Semoga di usiamu yang ke-72 ini makin bijaksana dalam merawat kemerdekaannya. Dirgahayu!

Gatot : Project 3

Aku cuma punya waktu setengah jam untuk menuliskan ini. Tapi bagaimana lagi kalau sedang ingin menulis. Yasudah aku tulis saja daripada penasaran dan menyesal.

Ini tentang sebuah usaha untuk membiasakan diri menjadi penulis mingguan. Setiap hari Jumat selalu ada reminder dari Google Keep di ponselku, “Project 3: Fun Blogging”. Deskripsinya lumayan bikin bangga pada diri sendiri di masa lalu :’)

Project 3 : Fun Blogging

Blogging is fun. Post anything that make you happy. Learn life lesson and make it interesting to be told on your blog. If you can please be cheerful and better be helpful. I know you want to be a nice and lovely person, but you don’t have to be another person, just be yourself, but in better version 😁

Here’s some ideas for your blog:
1. Posting about something funny
2. You can make a review about books, movies, or anything else yet.
3. Sharing about your idea or project that you’re doing is not a bad idea, it will make you feel more motivated 😆
4. Anything has a positive side, including your problems, make it a life lesson 😇
5. Pictures are nice. You must be love to take pictures now 😉
6. If you’re in mood, make a poetry, don’t you miss them?
7. Check Blogging 101 if you have no idea anymore
8. HAVE FUN 😀

Dilihat dari hasil post di blog ini, sudah dapat disimpulkan bahwa project ini GATOT alias GAgal TOTal. Huhuhu. Setiap kali reminder itu muncul di layar-5-inch-ku, aku merasa terusik dan sedih, tapi kadang-kadang bersyukur juga karena selalu diingatkan.

Aku kadang-kadang lupa kalau menulis itu menyenangkan. Kupikir tulisan-tulisanku itu sangat membosankan untuk dibaca orang lain, jadi akhir-akhir ini hanya kutulis untuk diriku sendiri. Tapi seteleh kutelusuri lagi, rupanya aku ini telalu berharap bisa langsung menulis “Great thing” dan mendapatkan penghargaan dengan mudah. Ekspektasi yang terlalu tinggi.

Melihat notifikasi project ini setiap Jumat membuatku merasa sudah berubah, tapi bukan ke arah yang lebih baik. Seperti kehilangan sebagian dari diriku. Seringkali aku ingin mencoba menuliskan sesuatu tapi tidak ada sebersitpun inspirasi.

Jalan yang aku ingin jajaki itu terasa semakin menjauh, langkahku ke arah sebaliknya. Inginku kembali tapi bisakah aku melakukannya dengan membawa bagian diriku lainnya yang telah terbentuk sekarang?  Mungkin? Semoga.

Waktu setengah jamku sudah habis. Saatnya kembali ke duniaku yang lainnya, hehe. Lain kali kuusahakan untuk selalu bersenang-senang saat menulis, seperti aku yang dulu, tapi harus lebih baik. See U!

 

Random Suatu Pagi

25 Juni 2016

Very very morning. Setelah subuh.

Aku suka rumah di lantai 2 yang menghadap atap. Tapi gentengnya sepertinya tidak kuat, jadi tidak bisa aku naiki, terlalu rapuh. Aku tidak mau bertanggungjawab kalau ada kerusakan. 

Aku suka angin pagi yang dingin, yang tidak akan kau dapatkan di Jakarta pada siang hari (sebagian besar siang hariku kuhabiskan di dalam kantor di Jakarta). Aku suka tulisan (tangan) ku yang antik seperti ini. Aku seperti proklamator kemerdekaan (tulisannya doang). 

Anggap saja aku sedang menulis surat. Untuk siapa ya? Mungkin untuk mantan? Mantan gebetan? Mantan saingan? Mantan bajingan? Haha. Pada dasarnya saat aku menulis, aku melakukannya untuk diriku di masa depan. 

Mencengangkan saat memikirkan bagaimana waktu berjalan. Sejak kau punya memori pertama, sampai kau terdampar di suatu kontrakan lantai 2 yang menghadap genteng, dan sekarang sedang menulis di atas pagar. 

Kadang-kadang aku merindukan saat-saat dimana aku bisa menikmati jambu langsung di pohonnya, sambil menikmati suara kincir angin musim panas. Aku juga pernah membawa buku untuk belajar di atas pohon. Kurasa itu tidak efektif, tapi menyenangkan. 

Dulu di depan rumah juga ada pohon belimbing, aku dan teman-teman bisa bikin petisan. Sekarang semua pohon sudah ditebang untuk membuat jalan dan menambah kamar di rumah warisan yang sudah dibagi-bagi. 

Kalau sudah besar, aku tidak mau punya rumah warisan, mau bangun sendiri saja, entah dimana. Eh aku lupa sekarang kan aku sudah besar. Tapi dalam hati dan pikiranku tidak berubah sejak umur 14 tahun. 

Apa ya yang menyenangkan ketika beranjak remaja?. Kurasa masa remajaku tidak terlalu “wah”. Aku tidak punya terlalu banyak teman, tapi aku senang. 

Yah, sampai di sini dulu. Sebenarnya aku masih ingin menulis dengan tulisan (tangan) “bagus” ini (sejak SD tulisanku seperti ini, seperti tulisam dokter, aku tidak ada bakat nulis rapi). 

Langit sudah lebih terang, dan seseorang yang disebut “suami” menggangguku. Jadi resiko punya suami adalah ini, kau tidak bisa menulis lama-lama, padahal sedang ingin. 

Sampai jumpa…

P. S : Tulisan ini aslinya ditulis tangan di sebuah buku tulis tahun lalu. Kuposting di sini karna sedang ingin saja, hehe. 

Feeling Villain

One day in my childhood, i watched anime. Usually a kid will love a hero and hate the villain. I didn’t.

I don’t love heroes, but i don’t hate villains either. I just feel sorry for villains. I can understand what they think, or what they feel.

I believe villains don’t come without a reason. Being the first child in a poor family make me realize it. I always envied my friends who have better toys, have comic i couldn’t buy, have better clothes, or have telephone in their house while i have nothing.

But I didn’t shout it. I was told the envy feeling is bad. And even just a kid, i knew that my family can’t afford it, i dealt with it.

There’re other problems too. I saw adults who always suffer in their life. My grandma was betrayed by her husband, my mom and her siblings were neglected by their father, my dad couldn’t afford a decent house for our little family so we have to life with grandma, or his brothers in the inherited house.

Sometimes I hate it all. Why I was born in this family. Now I am thinking my family is just a burden. It is selfish.

I know it’s a bad thought. But I couldn’t help it. Maybe I am too young to understand. Or maybe it’s just character that cling in myself.

I feel bad for myself like i feel bad for villains in the movie.

Alasan Hanyalah Sebuah Tiket

Sebuah alasan hanyalah tiket untuk melarikan diri dari hukuman, atau penyesalan. Seperti sebulan terakhir, aku punya alasan tersendiri untuk absen dari dunia tulisan ini.

Menulis itu membutuhkan energi yang lebih besar daripada memasak. Energi di sini maksudku bukan energi fisik, tapi energi secara mental. Memasak memang melelahkan. Aku menghabiskan dua dari tiga hari cuti akhir tahunku untuk memasak. Pada hari ketiga aku menyerah, malas mencuci peralatan masaknya.

Nah, sudah jelas kan, kalau memasak saja membuatku cape, apalagi menulis. Ini baru alasan pertama kenapa aku absen.

Aku cukup senang dengan kegiatan masak-memasak sambil nyontek resep dari Cookpad (aplikasi berbagi resep masakan di Android). Namun, entah kenapa memasak bagiku tidak terlalu memuaskan. Pikiranku tidak bekerja sebaik koki.

Kalau pikiranku tidak bekerja sebaik koki, apakah dia bisa bekerja sebaik penulis cerita fiksi?. Please jawab iya, aku maksa!. Ah bodohnya, mana aku tahu kalau belum dicoba.

Sayangnya, sebelum mencoba, aku malah terjebak cerita fiksi itu sendiri. Baiklah, ini sebuah pengakuan. Alasan aku absen adalah, juga karena sibuk (lebih tepatnya keasikan) membaca ulang Harry Potter dari buku pertama sampai ke-tujuh, Hehe.

Masih banyak alasan yang bisa kusebutkan. Seperti aku tidak punya waktu, tidak punya ide, dan tidak mood. Intinya, semua alasan yang bisa menghancurkan janji diri sendiri untuk mengisi blog setidaknya seminggu sekali.

Sebanyak apapun itu, alasan hanyalah alasan. Mereka adalah tiketku untuk melarikan diri dari perasaan bersalah dan penyesalan.

Aku tidak menyesal sudah membaca karya J.K Rowling yang mengagumkan. Aku juga tidak menyesal sudah menyempatkan diri memasak walaupun hanya dua hari. Aku hanya menyesal kenapa aku tidak bisa mengendalikan diri untuk tetap menepati janji.

Alasan hanyalah sebuah tiket. Keajaiban tiket ini kuharap bisa membawaku melarikan diri ke dunia yang lebih baik.

Katanya, guru terbaik adalah pengalaman.

Aku dan Lagu-Lagu Selow-ku

Selamat pagi! atau siang, sore, malam, kapanpun kamu membaca ini. Selamat kamu sudah bertahan hidup sampai sekarang sampai bisa membaca paragraf ini. Sungguh nikmat yang luar biasa kan?

Aku tahu ini judul tulisan ini terdengar sangat klasik. Seperti tulisan anak SD untuk tugas bahasa Indonesia : Aku dan Kucing Kesayanganku, atau Aku dan Sepupuku. Yah, karena waktu SD aku tidak pernah membuat tulisan seperti itu, mungkin ini saatnya mencoba.

Baiklah, aku akan mulai cerita. Nyaris tiga bulan lalu, aplikasi streaming musik Spotify menawarkan promosi berlangganan premium. Aku bisa mendengarkan musik tanpa iklan selama 3 bulan hanya dengan membayar kurang dari 5000 Rupiah. Tentu saja dengan syarat dan ketentuan yang berlaku (memakai Indosat billing di Google Play).

Sayangnya, besok promosi itu akan berakhir. Sepertinya aku akan berhenti berlangganan premium karena aku tidak terlalu sering mendengarkan musik. Jadi, untuk mengenang Spotify premiumku, aku sudah download beberapa lagu favorit (berharap tetap ada dalam playlist kalaupun sudah tidak premium, LOL).

Playlist favoritku isinya tidak banyak, cuma lima lagu selow melow. Sebenarnya aku tidak fanatik pada jenis lagu apapun, tapi lebih cenderung ke lagu-lagu yang selow dan damai. Nah ini isi playlist ‘Fav’ di Spotifyku:

  • Like I’m Gonna Lose You – Dallas Caroline ft. Terry Mahier

Lagu ini aslinya dibawakan oleh Meghan Trainor ft. John Legend, tapi aku pertama kali mendengarnya hasil cover Dallas. Selain musiknya yang selow, aku juga suka liriknya yang romantis.

  • Can’t Smile Without You – Barry Manilow

Lagu pop tahun 70an ini menurutku lucu, gampang diikuti jadi pas buat karaoke. Lagu ini juga dinyanyikan The Carpenters, tapi aku lebih suka versi Barry, suaranya khas.

  • Kiss Me – Sixpence None The Richer

Dulu pernah lagu ini di iklan permen Kiss. Musik dan vokalnya bikin rileks. Sepertinya enak kalau dinyanyikan pakai gitar. Ide nih buat nanti ngerayu si dia, si dia yang sudah halal, hehe.

  • (They Long To Be) Close To You – Carpenters

Satu kata buat Carpenters : Keren!. Beneran deh, suaranya keren, musiknya asik. Cocok buat pengantar tidur, atau sekedar teman saat rebahan di rumput memandangi awan putih di langit yang cerah. Oh indahnya.

  • Winter’s Love – My Life as Ali Thomas

Beberapa hari yang lalu aku menemukan lagu ini di sebuah playlist yang aku lupa namanya. Kalau di keempat lagu sebelumnya  itu pop banget, kalau yang ini beda, unik, gimana ya. Penyanyinya agak seperti baca puisi sih, dan liriknya memang puitis. Ini adalah lagu yang sempurna untuk menggambarkan sisi diriku yang melow dan berjiwa pujangga, ahzek.

Karena aku paling suka lagu yang terakhir, ini aku kasih link ke Official Audio & Lyrics Video dari Youtubenya My Life as Ali Thomas TV. Selamat mendengarkan ya pemirsa 🙂

Sudah dulu ya ceritanya. Mau cari inspirasi lagi buat berpuisi, atau sekedar berimajinasi sendiri.

Winter, hold this love of mine
Magic and the moonlight
Keep a heart and seconds untold

– Winter’s Love