Kehilangan

Pernah tidak kalian mencoba untuk menikmati hobi kembali tapi kok sekarang jadi tidak ada nikmat-nikmatnya sama sekali?

Contohnya setelah dua bulan lebih melahirkan anak kedua, aku mencoba membaca buku lagi atau menulis dengan “tidak terlalu asal-asalan”. Kebanyakan tidak ada waktu, atau ada waktu tapi tidak ada tenaga, atau ada waktu dan tenaga tapi tidak ada ide. Muncul sebuah ide tapi tidak tahu bagaimana mewujudkannya. Khusus untuk kegiatan membaca buku, tidak exciting lagi.

Bisakah kita mendapatkan hal-hal yang baru tanpa harus kehilangan hal-hal lama yang kita sukai? Rasanya berat sekali, aku seperti kehilanga separuh jiwaku.

HPL Plus Plus

Mau menulis sambil mendengarkan lagu berbahasa Indonesia ternyata adalah keputusan yang salah. Soalnya pikiran jadi terbawa kemana-mana gara-gara mengerti liriknya. Oke ganti saja dulu jadi playlist K-Pop. Nah kan enak, lebih fokus dan nyaman.

Kemarin malam sudah ada rasa mulas seperti kontraksi. Akhirnya kan, akhirnyaaaaa….. tertipuuuu. Ternyata mulasnya bukan mau lahiran, tapi panggilan alam hahahaha. Sudah beberapa kali tertipu seperti itu. Sialan!

Si bocah kecil sedang sakit. Dua hari ini badannya panas, tapi masih bisa haha hihi meskipun jadi lebih manja. Tadi dia jatuh di tangga belakang saat mau mengambil stiker yang dia lempar, di depan mataku sendiri. Punggung dan kepalanya membentur lantai, tidak kencang tapi sepertinya lumayan sakit. Dia menangis agak lama lalu tertidur di pangkuan.

Hari ini tidak banyak yang aku lakukan untuk induksi alami. Pagi tadi terkendala tugas rapat di Zoom, hanya duduk-duduk depan laptop. Tapi kenapa ya, sekarang aku merasa sangat lelah. Seperti penantian yang tidak akan pernah berakhir.

HPL Plus Dua

Hari Perkiraan Lahir (HPL) sudah lewat dua hari. Sayang sekali padahal tanggalnya bagus, 12.12, Harbolnas. Kalau jadi lahir tanggal segitu, anaknya jadi bayi flash sale kali ya, hahaha apaan sih. Tega banget si bubun :'(.

Seharusnya sekarang sudah periksa kandungan lagi ke dokter. Namun tidak ada yang bisa menemani karena pak suami sedang sakit dan aku juga malas. Bukan malas sih, lebih tepatnya takut. Dari pengamatanku, kebanyakan ibu hamil yang aku kenal dan sudah melebihi HPL disarankan untuk melakukan induksi buatan. Mereka bilang sakitnya bukan main. Hampir semuanya berujung dioperasi caesar karena satu dan lain hal. Kalau sudah begitu kan jadinya menderita dua kali, sakit kontraksi dan harus pemulihan caesar juga. Jujur saja, aku sangat takut menderita.

Ibuku tidak pernah melahirkan di rumah sakit, selalu memakai jasa dukun beranak. Katanya dulu banyak juga yang hamilnya lama bisa sampai hampir sebelas bulan, tapi akhirnya melahirkan juga, selamat ibu dan anaknya. Ya memang sudah beda jaman sih. Dulu di kampung jarang sekali yang berkonsultasi dengan dokter, apalagi kenal teknologi USG dan operasi caesar, kecuali mungkin yang bermasalah. Perhitungan usia kandungan pun tidak memakai satuan minggu, dikira-kira saja kali ya. Berbeda dengan masa kini, dengan segala pengetahuan dan teknologinya, kukira kesabaran malah lebih susah dipraktekkan.

Anak sulungku lahir pada usia kandungan nyaris 42 minggu secara normal tanpa induksi. Deadliner sejak lahir ya. Dua hari sebelum lahir padahal sudah disuruh induksi oleh dokter karena sudah ada pengapuran plasenta. Karena tiga tahun lalu aku tidak banyak melakukan riset tentang kehamilan dan persalinan, aku tidak terlalu mengerti itu apa artinya. Dari hasil pemeriksaan, janinnya masih baik-baik saja, jadi aku menolaknya dan menandatangani surat pernyataan bahwa aku sendiri yang tidak bersedia diinduksi saat itu juga. Untung saja dia masih mau keluar dari perut ibunya ya, kalau tidak, entah apa yang terjadi.

Aku hanya berharap si adik ini tidak mengikuti jejak kakaknya yang deadliner. Gerakannya sih masih aktif menendang-nendang ke sana ke mari, tapi sepertinya ruang geraknya sudah berkurang. Yaampun minggu lalu saja dia sudah lebih dari tiga kilogram. Plis jangan tambah gede lagi pliiis.

Aku bukannya tidak melakukan apa-apa untuk melancarkan persalinan. Hampir tiap hari loh jalan-jalan dan main gym ball dan lain-lainnya, tapi mungkin baginya usahaku kurang maksimal untuk mengeluarkannya dari perut ini. Mungkin dia sedang berdandan biar pas keluarnya cantik seperti kakaknya, atau dia malas saja lihat muka ibunya yang jutek ini. Yasudahlah, terserah kau saja lah bayi!

Marah

Aku merasa sudah marah untuk waktu yang sangat lama. Tidak ada yang bisa dimarahi karena aku hanya marah pada keadaan. Kemarahan ini nampak konyol saat kulihat sebagai orang luar. Namun tidak saat aku di dalamnya.

Aku terbakar dan terus terbakar. Merindukan air yang akan memadamkan api ini? Entahlah. Aku hanya menunggu kapan aku menjadi abu dan hilang tersapu angin.

[CAnBUk] Aroma Karsa

Akhirnya setelah telat setahun lebih dari nge-hype-nya novel ini, aku baca juga. Dee Lestari merupakan salah satu penulis Indonesia yang aku suka. Setelah series Supernova yang wow itu, aku juga sempat membaca Perahu Kertas dan Madre. Namun saat Aroma Karsa baru muncul ke permukaan dengan sistem rilis per bab di aplikasi digital, niat membaca kutunda dulu sampai novelnya selesai dan dicetak berupa buku, biar tidak tanggung.

Kesan pertama untuk bab pertama, apa ya? Mungkin kurang tertarik. Biasa saja. Kucoba lanjut bab berikutnya, baru lumayan terasa asiknya. Mungkin karena aku kelamaan baca buku non-fiksi sebelumnya, jadi bahasa novel terasa agak aneh, perlu penyesuaian lagi. Bagus juga sih untuk penyegaran emosi dan pikiran.

Alur dan gaya bahasanya sangat khas Dee. Gimana ya? ya seperti itu lah. Detail-detail tentang ilmu per-aroma-an dan latar belakang sejarah juga tempat yang dibubuhkan membuat segi fantasinya terasa melebur halus dengan kenyataan. Belum lagi tokoh-tokohnya yang selalu punya karakter unik, meskipun bisa ditebak endingnya siapa berakhir dengan siapa (ya sama tokoh utama lah).

Aku suka ceritanya mengandung detail-detail yang bisa memperluas pengetahuan tentang aroma. Akhirnya happy ending meskipun ada sedikit plot-twist, memberikan peluang untuk dibuat sekuelnya. Aku memberi rating novel ini 4/5. Tidak sempurna karena entah bagaimana tidak memberikan kesan mendalam di hatiku. Ini hanya masalah selera sih. Aku suka, tapi kesannya bagiku hanya sekedar hiburan yang menyenangkan, tidak lebih.

Menikmati Fiksi Kembali

Sudah berapa lama ya aku tidak membaca novel? Mungkin berbulan-bulan. Namun tiba-tiba saja beberapa hari kemarin aku mulai membuka sebuah novel yang dibeli akhir tahun 2019. Sembilan bulan dia di rak buku akhirnya dibaca juga. Kalau ibu hamil sih sudah lahiran kali ya.

Ada satu buku non-fiksi terjemahan yang sedang aku baca. Berminggu-minggu baru sampai setengahnya. Isinya sangat menarik tapi lama-lama aku pusing juga, jenuh. Karena ingin ganti suasana akhirnya aku selingi dengan novel. Eh malah keterusan, progresnya lebih cepat baca fiksi ketimbang buku tadi.

Sebenarnya sudah beberapa kali aku membaca beberapa halaman awal novel yang lain. Rasanya biasa saja, tidak terlalu menarik perhatian dan penasaran. Kalau yang sekarang aku baca lumayan tebal tapi asyik. Padahal aku tahu kalau penulisnya salah satu yang kusukai, tapi kenapa tidak aku baca dari dulu sih. Haha.

Buku apa sih mereka itu? Jadi ini….

Cuma dua ini yang sedang aku baca. Belum berani nambah soalnya aku sudah sadar kalau aku orangnya tidak “multitalenan” alias pusing sekaligus banyak mah hehe.

Terima kasih mbak Dee sudah menulis novel yang keren. Akhirnya aku bisa menikmati fiksi kembali.

Hari-hari yang Cerah

Alias panas.

Tengah hari di Kota Bogor (27 Agustus 2020)

Sudah beberapa hari ini tidak hujan. Biasanya siang panas malam hujan. Sekarang siang panas malam panas juga. Lumayan sauna gratis.

Panasnya tidak terlalu menyiksa karena ada angin sepoi-sepoi, kadang-kadang dua-poi dua-poi. Eh apa sih hehe. Maaf pusing nih kepanasan gak punya AC, kalau pakai kipas angin nanti langsung sakit perut lalu minta dikerik deh. Mohon maklum badan ini lagi sensi (atau memang udah tua aja… sad~).

Demikian berita tidak penting hari ini. Selamat melanjutkan kegiatan apapun yang anda lakukan sekarang. Jangan lupa jaga kesehatan karena RS katanya sedang kewalahan gara-gara banyak pasien covid-19!

Taruhan

Sudah lima bulan loh kandungan ini. Bukan “kok cepet ya” tapi “aduh masih empat bulan lagi keluarnya huhu”. Mungkin akibat WFH tidak pernah jalan-jalan akhirnya bosen berasa sudah ratusan purnama berlalu. Apakah ini yang dimaksud Einstein dengan relativitas waktu? Hemm… Au ah males mikirin fisika.

Pada kehamilan pertama, setiap bulan ke dokter kandungan untuk di-USG. Setiap bulan yang mendebarkan melihat perkembangan si kecil. Namun sayangnya tidak berlaku untuk si kecil kedua. Terakhir ke dokter kandungan dua bulan lalu, itu pun untuk jaga-jaga kalau perlu bukti catatan dokter sebagai alasan WFH full, hehe. Benar saja kan ternyata butuh. Tapi aku senang juga saat melihat gambaran di layar monitor USG. Dia bergerak-gerak terus sampai susah diukur sama bu dokter. Lalu ada detak jantungnya juga yang teratur, datang dari makhluk yang tadinya tidak ada di dunia ini, magical sekali.

Sehabis kunjungan terakhir itu, aku ingin ke dokter lagi, tapi tidak tahan dengan antriannya. Bayangkan, daftar jam sekitar jam satu siang untuk jadwal dokter jam dua, tiba-tiba diinfokan kalau jadwalnya digeser ke jam empat sore karena dokternya sedang ada tindakan operasi di RS lain. Aku dan suami balik dulu ke rumah, lalu balik lagi ke RS jam empat lewat sedikit, tapi kebagian giliran diperiksa jam setengah tujuh. Kami sih maklum karena antriannya banyak, tapi harus diakui itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan.

Bulan berikutnya, karena susah mengatur jadwal ke dokter bersama suami, aku galau dan akhirnya memutuskan pergi ke bidan saja sendiri. Sampai di tempat praktek bidannya, antriannya nol alias bisa langsung masuk terus diperiksa sama bu bidan. Duh terharu deh. Meskipun tidak ada USG, tapi bidan bisa pake alat untuk memeriksa detak jantung sang janin. Segitu saja aku sudah senang, soalnya detak jantungnya normal dan teratur. Belum lagi biaya pemeriksaan sekaligus vitaminnya jadi jauh lebih murah dibanding biaya ke dokter, lumayan sisanya buat jajan *kipas-kipas uang*.

Sejauh ini tidak ada masalah serius yang kurasakan. Namun kami sudah mulai penasaran tentang jenis kelaminnya si jabang bayi. Pada awal kehamilan, suami memberitahu mamah mertua. Kata si mamah pantesan mimpi punya kerbau (atau sapi ya?), mungkin anaknya laki-laki. Cieeh jadi berharap kan bapaknya si bayi, dari dulu pengen anak laki.

Beberapa minggu berlalu setelah percakapan dengan mamah mertua, aku sendiri bermimpi. Di dalam mimpiku aku sedang memilih nama anak. Aku ingat jelas nama yang aku pilih itu nama anak perempuan, tapi tidak akan aku sebutkan, hehe. Setelah itu aku jadi cenderung berpikir kalau anak keduaku ini juga perempuan. Ada alasan lainnya sih seperti detak jantung janin yang melebihi 140 per detik, bentuk perut yang bulat, wajah ibu yang terlihat lebih cantik (pede banget ini yaampun), dan lain-lain lah yang “katanya” tanda-tanda hamil bayi perempuan. Tuhkan aku sudah mulai tidak logis hanya karena satu mimpi.

Iseng-iseng semalam aku mengajak suami taruhan. Aku bertaruh kalau anak ini perempuan, sedangkan dia keukeuh anaknya laki-laki. Mau aku ajak taruhan pake uang, dia tidak mau, haram katanya. Tapi alasan sebenarnya adalah takut kalah karena dia bilang aku kan ibunya, jadi peluang benarnya lebih besar, hahahaha.

Apapun tebakannya, tidak akan terjawab kalau tidak dipastikan ke dokter kandungan. Jadi kami rencanakan ke dokter lagi dalam waktu dekat demi menghilangkan rasa penasaran ini. Apa ya hasilnya? Aku sih masih yakin kalau bayinya perempuan.

Btw, biasanya orang-orang ingin anaknya sepasang perempuan dan laki-laki. Kalau yang pertama perempuan, yang kedua pasti diharapkan laki-laki, pun sebaliknya. Kok aku tidak ya? Apa aku aneh? Iya kali.

Can’t wait to see the result!